Tak Mengelak

Dunia itu terbelah dua: aroma tiner cat yang tajam di kamar kosnya dan bau apek kertas fotokopi di kantor magang. Kabar itu datang di satu fajar yang sama; sebuah slot di galeri kolektif pasar seni lokal akhirnya ia dapatkan setelah tiga tahun mengetuk pintu demi pintu, berbenturan keras dengan hasil rontgen paru-paru ayahnya yang memburuk. Angka di surat tagihan rumah sakit adalah monster yang tidak bisa dikalahkan dengan estetika pop-art. “Kanvas tidak bisa membayar tabung oksigen, Nak,” bisik ayahnya di antara bunyi mesin yang berderit di selasar IGD yang sesak, sebuah suara parau yang jauh lebih tajam dari kritik seni mana pun.

Hari itu, ia tidak hanya memilih pekerjaan di firma konsultan. Ia melakukan likuidasi batin. Ia tidak menyimpan tablet grafisnya sebagai kenangan; ia menjualnya di situs barang bekas dalam hitungan jam dengan harga rendah yang menghina—sebuah tindakan simbolis untuk memastikan ia tidak punya jalan kembali. Ia butuh uang itu untuk uang muka kamar VIP agar ayahnya tidak perlu mati di selasar. Ia membunuh seniman di dalam dirinya agar sang ayah bisa bernapas satu hari lagi.

Proses “amputasi” itu tidak terjadi dalam satu malam, melainkan melalui ribuan sayatan kecil yang presisi. Di tahun pertama, ia masih sering melihat pola awan di langit sebagai gradasi cat air, namun ia segera menunduk, memaksa matanya kembali ke layar monitor yang penuh dengan angka inflasi. Di tahun ketiga, ia mulai membiasakan diri untuk tidak lagi “melihat” warna; merah bukan lagi gairah, melainkan indikator kerugian pada grafik saham. Ia mulai membuang sisa-sisa pensil sketsa yang terselip di laci kantornya, menggantinya dengan kalkulator finansial yang dingin. Setiap kali gairah menggambarnya muncul di tengah rapat yang membosankan, ia akan mencengkeram pulpennya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih, memaksa otaknya untuk kembali memproses rasio utang dan valuasi pasar.

Lima tahun berlalu, dan ia telah berhasil melakukan amputasi total pada bagian otaknya yang menyukai warna. Ia telah menjadi mesin kalkulasi yang efisien, di mana spektrum warna sepenuhnya digantikan oleh kolom-kolom spreadsheet. Saat melewati galeri seni di pusat kota, ia tidak lagi masuk untuk mengagumi komposisi garis; ia melihat karya di balik kaca sebagai komoditas dengan biaya sewa per meter persegi yang tidak masuk akal. Ia merasa bangga pada mati rasanya. Itu adalah mekanisme pertahanan diri, semacam perisai mental agar ia tidak gila saat harus lembur hingga jam empat pagi demi menghitung valuasi perusahaan tambang. Keindahan baginya hanyalah distorsi yang menurunkan produktivitas.

Kini, sebagai Partner di firma tersebut, ia memiliki segalanya: apartemen dengan pemandangan 360 derajat Jakarta, jam tangan yang harganya setara rumah di desa, dan pengaruh yang absolut. Namun, kekosongan itu merayap masuk bukan sebagai ledakan, melainkan sebagai kebocoran halus yang terdeteksi tepat setelah ayahnya meninggal setahun lalu. Alasan untuk terus mengejar angka tiba-tiba menguap bersama nisan yang mengering. Ia merasa asphyxiate—bukan karena kekurangan oksigen, tapi karena kekosongan yang begitu padat di tengah kemewahan.

Suatu malam, ia mencoba kembali. Ia membeli kertas archival dan pensil terbaik—sebuah upaya pembangkitan jiwanya yang sudah dibunuh dan terkubur rapi sepuluh tahun lalu. Namun, saat ujung pensil menyentuh kertas, ia menyadari horor yang sebenarnya: tangannya sudah lupa cara menari. Otot-otot jemarinya kini hanya terlatih untuk mengetik rumus Excel dan menandatangani kontrak. Garis yang ia buat kaku, gemetar, dan tanpa nyawa. Ia tidak menemukan kembali gairahnya; ia justru melakukan autopsi pada bangkai kemampuannya yang telah mati karena busung lapar selama satu dekade.

Ia berdiri di balkon, menatap kerlip lampu Jakarta yang tampak seperti grafik bursa yang stagnan. Ia adalah pahlawan finansial keluarganya, kebanggaan almarhum ayahnya, dan manajer strategi paling brilian di industrinya. Namun, ia menyadari satu hal yang lebih menyakitkan daripada kemiskinan: Ia telah berhasil membeli kenyamanan hidup, namun ia telah kehilangan organ batin yang berfungsi untuk menikmatinya. Ia telah sampai pada titik di mana ia bisa memahami setiap kepedihan dari sebuah pengorbanan, namun ia tidak lagi memiliki kanvas untuk menuangkannya.

Hidupnya sukses secara statistik, namun gagal secara manusiawi. Ia kembali ke meja kerjanya, menutup kotak pensil mahalnya yang masih bersih, dan membuka laporan audit triwulan. Ia mengenakan setelan jas mahalnya, kembali menjadi manajer strategi yang dingin, dan menjalankan rencana bisnis yang berulang hingga ajal datang menjemput sebagai satu-satunya variabel yang tidak bisa ia negosiasikan.