Kala(h)

Wangi melati yang menyeruak di aula hotel itu seharusnya harum, tapi bagi Kala, aromanya terasa seperti formalin yang mengawetkan luka. Ia berdiri di depan cermin toilet, merapikan kebaya bridesmaid berwarna salem yang terasa mencekik lehernya.

Selama belasan tahun, Kala memerankan peran “sahabat kecil” dengan sangat sempurna. Tak ada yang menyadari, bahkan Emir sekalipun, bahwa setiap detail penampilan Kala adalah sebuah konstruksi. Potongan rambut sebahu ini, aroma parfum white tea yang lembut—semuanya adalah upaya Kala untuk menjadi perwujudan dari “wanita ideal” yang pernah Emir deskripsikan saat mereka masih remaja dulu.

Kala menghapus dirinya sendiri demi menjadi apa yang Emir suka, namun ironi itu menghantamnya telak: Emir memang menyukai “versi ideal” itu, tapi dia jatuh cinta pada kejutan yang ditawarkan perempuan lain. Kala hanyalah perpustakaan hidup dari selera Emir, tempat pria itu pulang untuk merasa benar, bukan tempatnya untuk berlabuh.

“Kala! Mas Emir nggak ada di posisi!” seorang sepupu Emir muncul dengan wajah pucat, berbisik panik agar tidak terdengar tamu. “Tim WO baru lapor ke aku, katanya Mas Emir izin ke toilet lima menit lalu tapi nggak balik-balik. Kalau lima menit lagi nggak muncul, bapaknya pasti curiga.”

Kala menarik napas panjang. Ia tahu persis. Emir tidak sedang di toilet. Di saat semua orang mulai mencium aroma kegaduhan, Emir—dengan sifat avoidant-nya yang kronis—pasti akan mencari celah untuk menghilang dari tekanan.

“Aku cari di area servis. Kamu tahan orang tuanya, bilang Mas Emir lagi benerin ritsleting jas yang nyangkut,” perintah Kala tenang, bergerak cepat sebelum kepanikan itu meledak menjadi drama keluarga besar.

Kala melangkah cepat menuju koridor belakang lantai mezanin, melewati pintu besi berat bertanda ‘Exit’ yang menuju ke area mesin AC yang bising. Benar saja. Di sana, di antara aroma semen dingin, Emir berdiri membelakangi pintu. Beskap hitamnya sudah terpasang, tapi kancing atasnya dibuka paksa, seolah pria itu sedang berjuang untuk bernapas.

“Gue tahu lo bakal di sini,” suara Kala memecah kesunyian koridor.

Emir menoleh, bahunya merosot lega. “Kal… gila, di dalam pengap banget. Gue ngerasa… ini salah.”

Kala mendekat, mengabaikan getar di tangannya sendiri. “Tiga menit, Mir. Sebelum bokap lo keluar dan nyeret lo ke pelaminan. Sini, kancingin lagi.”

Jemari Kala mulai merapikan kerah Emir. Jarak mereka begitu dekat. Kala mengandalkan aroma white tea-nya—senjata tenangnya selama bertahun-tahun—untuk meredam kepanikan Emir. Di detik itu, Kala ingin sekali egois. Ingin sekali ia berbisik, “Jangan pergi ke sana,” namun martabatnya menahan bibirnya tetap terkunci.

Tiba-tiba, tangan Emir menyentuh pergelangan tangan Kala, menghentikan gerakannya. Tatapan Emir di koridor remang itu mendalam, penuh keraguan yang berbahaya.

“Kal,” suara Emir rendah, hampir berbisik. “Kalo seandainya… lo yang ada di sana nanti, bukan dia… apa gue bakal se-panik ini?”

Mata Emir menyapu wajah Kala, menatap rambutnya, mencium aroma parfumnya—segala hal yang Kala bangun khusus untuk menyenangkan pria itu.

“Gue selalu ngerasa damai kalau ada di dekat lo,” lanjut Emir, telak. “Apa mungkin… takdir gue itu lo?”

Dunia Kala seolah runtuh. Pertanyaan itu terasa seperti penghinaan terbesar. Bukan cinta yang Kala lihat di mata Emir, melainkan rasa takut. Emir baru melirik “hasil kerja keras” Kala justru di saat dia sudah tidak bisa memilihnya. Kala menyadari satu hal yang menyakitkan: Menjadi apa yang pria itu suka tidak menjamin akan dicintai; itu hanya menjamin akan dibutuhkan saat dia kesulitan.

Kala melepaskan tangannya dengan paksa dari genggaman Emir.

“Mir,” suara Kala dingin dan stabil. “Lo nggak sayang sama gue. Lo cuma sayang sama diri lo sendiri yang merasa aman kalau ada gue. Dan gue nggak mau jadi sekadar ‘obat penenang’ buat rasa panik lo.”

Dari kejauhan, terdengar bunyi keresek radio HT tim WO yang mulai menyisir koridor. “Posisi mezanin, masuk. Mempelai pria harus di lokasi dalam dua menit.”

“Ayo balik,” lanjut Kala, berbalik membelakangi Emir agar pria itu tak melihat setetes air mata yang lolos. “Jangan jadi pengecut di hari paling penting buat dia. Dan jangan berani-berani lo jatuh cinta sama gue cuma karena lo nggak punya nyali buat hadapin pelaminan.”

Kala menepuk bahu Emir keras—sebuah tamparan realitas. Emir menarik napas panjang, mengancingkan jasnya sendiri dengan tangan gemetar, lalu berjalan mendahului Kala menuju pintu besi itu.

Akad nikah itu berlangsung khidmat. Kala berdiri di barisan paling depan, menyaksikan Emir mengucapkan kalimat pengikat yang membuat pria itu sah milik wanita lain.

Saat bersalaman di pelaminan, Kala memeluk Emir dan istrinya. Tidak ada lagi sesak yang menghimpit, hanya ada rasa lelah yang tuntas. Kala menyadari satu hal: cinta tertinggi bukan tentang menjadi apa yang orang lain inginkan, tapi tentang berhenti berpura-pura agar kita bisa mulai menyelamatkan diri sendiri.

Kala melangkah keluar gedung saat pesta masih berlangsung. Ia tidak merasa “menang”, ia merasa kosong. Namun, saat ia melangkah menuju parkiran yang mulai gerimis, ia merasa merdeka.

Ia menyalakan mesin mobilnya, menghirup dalam-dalam aroma parfum di pergelangan tangannya—yang besok, akan ia ganti dengan aroma lain yang benar-benar ia sukai sendiri. Akhirnya, rahasia belasan tahun dan upaya menjadi “perempuan ideal” itu mati di koridor mezanin tadi. Dan itu sudah cukup.