Aku sedang menulis tentang seorang pria yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk menjadi “layak”, hanya untuk menyadari bahwa timbangan yang digunakan dunia untuk mengukurnya sudah rusak sejak awal.
Kisah ini dimulai di koridor kampus, saat cinta masih terasa seperti janji yang bisa ditepati. Si pria jatuh hati pada seseorang yang ia inginkan, namun bukan yang ia butuhkan. Demi sebuah restu yang tak kunjung turun, ia membagi dirinya menjadi tiga nyawa yang berbeda dalam sepekan, memaksakan raga untuk memikul beban sebagai mahasiswa yang mencoba bertahan hidup di tengah badai ekspektasi.
Senin hingga Jumat, pagi hingga siangnya ia habiskan di ruang-ruang kuliah, berjuang menuntaskan pendidikan di sela-sela rasa kantuk yang hebat. Di jeda kelas, ia menjelma menjadi hamba piksel; desainer lepas yang membangun citra mewah perusahaan besar dari laptop tuanya. Ada masa saat malam tiba, ia beralih peran menjadi runner EO, mengangkat besi dekorasi di balik panggung orang-orang sukses. Dan di akhir pekan, ia berdiri di sudut kafe sebagai pemain band reguler, menyanyikan lagu cinta untuk pasangan yang punya kemewahan untuk berkencan, sementara ia sendiri kehilangan waktu untuk sekadar memejamkan mata.
Selama sepuluh tahun, ia melakukan itu semua demi satu pengakuan. Namun, orang tua pasangannya memiliki standar yang selalu bergerak menjauh. Mereka membandingkan si pria dengan karier anaknya sendiri—pasangan si pria.
“Anak saya lulusan terbaik, masa depannya terukur,” kata mereka dengan nada yang menghakimi. “Kamu? Kamu cuma pekerja serabutan. Kamu beban yang akan menariknya ke lumpur.”
Keluarga itu tidak pernah mau tahu bahwa anak mereka bisa bersinar justru karena si pria yang menjadi fondasi tak terlihat di bawahnya. Ia adalah peredam badai emosional yang memastikan pasangannya tetap tegak, meskipun ia sendiri sedang mengering di dalam.
Setelah sepuluh tahun yang sia-sia itu kandas, ia mencoba “pulang” ke pelukan seorang wanita yang awalnya ia anggap sebagai penyembuh. Selama satu setengah tahun ia berjuang merawat luka baru di tengah ketergantungan wanita itu pada alkohol. Namun, ia justru dikhianati oleh perselingkuhan yang dilakukan wanita itu di bawah pengaruh minuman yang sama. Pengalaman itu menjadi paku terakhir pada peti matinya. Ia mulai meragukan hakikat cinta; ia merasa dirinya hanyalah produk gagal yang layak digunakan, tapi tak pernah pantas untuk dimiliki.
Di sisa napasnya, ia menjadi orang yang paling ringan tangan. Ia menyuap semesta dengan kebaikan agar tidak perlu mendengar suara kesepian di kepalanya. Ia membahagiakan orang lain demi distraksi, berharap ada sedikit rasa sayang sebagai uang kembalian. Namun dunia tidak mengenal sistem kembalian bagi orang seperti dia.
Malam itu, si pria duduk di depan monitor yang masih menyala. Ia melihat tangannya yang kasar; tangan yang bertahan membangun panggung untuk orang lain, namun tak pernah punya tempat untuk sekadar duduk beristirahat.
Untuk pertama kalinya, ia tidak tersenyum. Ia mengetik satu kata di layar ponselnya: “Tidak.” Itu adalah kata paling jujur yang pernah ia produksi selama hidupnya.
Ia mengambil selembar kertas sisa draf desain yang gagal. Di balik kertas itu, ia tidak menggambar apa-apa. Ia hanya menulis satu instruksi terakhir: “Lunas.”
Ia berhenti mencoba menjadi “cukup”. Ia melepaskan pegangannya pada dunia, meninggalkan semua miliknya untuk mereka yang selama ini hanya menganggapnya sebagai sumber bantuan, bukan sebagai manusia.
Aku menutup naskah ini dengan rasa pahit di lidah. Karena di akhir cerita, si pria tidak benar-benar kalah; ia hanya akhirnya menyadari bahwa satu-satunya cara untuk menang melawan permainan yang curang adalah dengan berhenti bermain.