Makan Malam Terakhir si Pecundang.

Apartemen Togi adalah nekropolis pigmen. Di sana, tabung-tabung akrilik telah bertransformasi menjadi fosil-fosil kaku yang meringkuk di sudut, sementara kanvas-kanvas kosong mengalami pembusukan organik, teroksidasi menjadi warna kuning nanah yang menyedihkan. Lampu pijar di langit-langit berderit pelan, sebuah ayunan ritmis yang seolah sedang mengukur kekuatan gravitasi. Dunia, bagi indranya yang tumpul, telah mengalami de-saturasi total; realitas hanyalah gradasi abu-abu monyet yang menjemukan.

Malam itu, hening harusnya menjadi absolut. Sejak sore, di bawah pendar lampu pijar yang sekarat, pria itu telah menelan dua strip pil dengan keyakinan dogmatis. Di atas meja, sebuah jam beker tua berdetak mati suri. Namun, alih-alih transendensi menuju kedamaian abadi, yang meledak justru pemberontakan viseral dari ususnya. Dosis berlebih itu bekerja lebih cepat dari maut; tiga jam mendekam di atas kakus akibat salah mengonsumsi obat pencuci perut membuatnya sadar: bahkan maut pun enggan menjemputnya dengan protokol yang elegan.

Togi menyeret tungkainya keluar dari kepengapan flat yang berbau minyak tanah dan kegagalan. Di tangan kirinya, ia menjinjing sebotol anggur murah yang labelnya sudah mengelupas—bekal terakhir untuk pesta kematiannya yang tertunda. Dia menembus koridor yang remang, menuruni tangga-tangga beton yang terasa seperti anak tangga menuju liang lahat, hingga sepatu tuanya mencium aspal basah. Langkahnya membawa raga yang lunglai menuju jembatan layang itu berdiri angkuh, lengkungannya seperti tulang rusuk raksasa yang sudah lama ditinggalkan dagingnya.

“Sialan. Mau mati saja harus mencret dulu,” gerutu pria tua itu, suaranya parau tertelan angin.

Satu tungkai kerempengnya sudah mengangkangi pagar besi yang berkarat, siap meluncur ke dalam pelukan aspal yang dingin. Tiba-tiba, sebuah frekuensi cempreng memutus sirkuit pikirannya.

“Woi, Pak Tua! Mundur dikit, pagarnya sudah osteoporosis. Kalau Pak Tua terjun bebas bawa-bawa itu pagar, saya yang kena semprot Dinas PU gara-gara laporan vandalisme!”

Pria tua itu menoleh. Di sana, bersandar dengan gaya yang luar biasa santai, berdiri Lukas—pemuda dengan anomali rambut biru elektrik.

“Enyah, bocah ingusan! Pergi sebelum aku menyeretmu ke neraka bersamaku!” bentaknya.

Lukas justru mendekat. “Galak amat. Mau mati ya silakan, tapi cari koordinat yang sedikit lebih estetik. Di sini baunya pesing kucing, Pak Tua.” Lukas memantik api, asap rokoknya bergulung. Dia meracau tentang kegagalan hidupnya sendiri, hingga bibirnya menyebut sebuah artefak visual yang dia temukan di tumpukan sampah galeri yang pailit sepuluh tahun lalu.

“Lukisan itu… kasar. Brutal. Judulnya Makan Malam Terakhir si Pecundang.”

Napas Togi tertahan. Nama itu bukan sekadar judul; itu adalah sebuah pengakuan dosa yang pernah ia muntahkan sepuluh tahun silam.

“Di pupil anjing buduk dalam kanvas itu, si pelukis menyisipkan satu atom warna emas. Kecil. Nyaris tak terlihat. Saya mikir, kalau subjek sedepresi pelukis itu masih sanggup menyisipkan harapan mikro, masa saya yang cuma korban ghosting mau gantung diri? Rugi bandar!”

Lukas menyodorkan ponsel dengan layar yang retak seribu. Di sana, pria itu melihat hantunya sendiri. Meski retakan layar membelah gambar itu, titik emas di mata si anjing masih berpendar tajam—sebuah detail mikroskopis yang hanya bisa dikenali oleh orang yang pernah menorehkannya langsung. Wajah Togi terbelah di layar ponsel itu menjadi dua fragmen: satu yang menua dalam keputusasaan, dan satu lagi yang terperangkap dalam inisial “T.G.” yang tersembunyi.

“T.G. itu genius yang sungsang, Pak Tua. Meski saya yakin dia aslinya brengsek kelas berat,” tukas Lukas tanpa filter.

Togi menatap telapak kanannya. Di sana, terdapat parut permanen berbentuk ‘V’—stigma dari pisau palet yang tergelincir tepat saat ia mengukir inisial “T.G.” di pojok bawah lukisan itu.

“Dia memang brengsek,” gumamnya, tenggorokannya tercekat. “Sangat brengsek. Dan dia belum mati, kau bocah tolol.”

“Lho, kok Pak Tua tahu? Teman mabuknya ya? Salamin kalau ketemu, bilang makasih sudah bikin saya batal jadi hantu.”

Lukas menggebuk punggung pria itu dengan brutal. “Dah, Pak Tua! Jangan lompat sekarang. Mending botol anggur ini buat saya!” Lukas menyambar botol anggur dari genggaman lemah Togi, menyeringai lebar, lalu melesat pergi.

Ia berdiri mematung. Di langit, awan kelabu perlahan tersingkap, memamerkan satu bintang kecil yang berpendar kekuningan—persis seperti atom emas itu.

Dia berbalik. Langkahnya tidak lagi lunglai. Sampai di flatnya yang kumuh, ia tak menyentuh strip obat yang tersisa.

Dia mengobrak-abrik tumpukan rongsokan di gudang, mencari sisa-sisa bubuk pigmen mentah yang masih terbungkus rapat di dasar peti kayu.

Di atas kanvas yang telah lama membisu, ia meraba bekas luka ‘V’ di tangannya, lalu mengambil kuas yang paling runcing. Dia akan melukis seekor monyet biru elektrik yang sedang berlari membawa botol anggur jarahan, dan kali ini, inisial itu tidak akan lagi diukir dengan rasa benci.