Jakarta masih saja bising;
debu dan klakson yang tak pernah tidur di balik jendela.
Sementara di sana, Austria sedang membeku;
pintu-pintu terkunci rapat, salju menimbun sunyi.
Kita hanya dua koordinat yang dipaksa statis.
Bukan karena ribuan kilometer,
tapi karena dunia sedang sesak,
memaksa kita jadi sekadar angka di balik layar lima inci.
Cintamu kini cuma sekumpulan piksel yang sering kali blur,
terperangkap dalam sinyal yang tak pernah benar-benar sampai.
Lalu di ujung panggilan yang dingin,
suaramu pecah bertanya:
“Kenapa sih, hubungan ini harus ada di tengah pandemi kayak gini?”