Above the Clouds

ACT 1 — Langit adalah Tempat Persembunyian

Setiap pagi ia naik lift selama hampir dua menit.

Pintu terbuka.

Langit.

Restoran mewah berada di lantai 98. Di sana awan sejajar dengan jendela.

Ia hafal menu.
Ia hafal nama pelanggan tetap.

Tetapi tidak pernah hafal jalan pulang.

Saat selesai bekerja, ia langsung pulang tanpa pernah benar-benar menikmati kota.

Semua orang berpikir ia menyukai pemandangan.

Padahal bukan.

Ia hanya takut berada di bawah.

Dulu ia pernah gagal membuka usaha kecil bersama ayahnya. Hutang menumpuk. Ayah meninggal sebelum sempat memperbaiki semuanya.

Sejak itu ia merasa:

Semakin dekat ke tanah,
semakin dekat pada semua kenangan itu.

Maka ia mencari pekerjaan yang secara harfiah menjauhkannya dari bumi.


ACT 2 — Turun

Suatu hari restoran mengumumkan akan tutup.

Bangunan akan direnovasi.

Seluruh staf harus mencari pekerjaan baru.

Teman-temannya mendapat pekerjaan di hotel.

Ada yang pindah ke kapal pesiar.

Ia justru menolak semua tawaran.

Semuanya berada di bawah.

Ia menunda.

Berbulan-bulan.

Tabungannya habis.

Untuk pertama kalinya ia harus menerima pekerjaan sebagai waiter di sebuah kafe kecil di pinggir jalan.

Tidak ada kaca setinggi langit.

Tidak ada awan.

Hanya suara motor.

Anak sekolah.

Orang-orang yang tertawa.

Ia merasa sesak.


ACT 3 — Ground Level

Hari-hari pertama terasa menyiksa.

Pelanggan jauh lebih cerewet.

Tidak ada lagi tamu berdasi.

Tidak ada tips besar.

Tetapi…

Ia mulai mengenal pelanggan.

Seorang ibu yang selalu memesan kopi sebelum mengantar anaknya.

Seorang bapak tua yang membaca koran setiap pagi.

Sekelompok mahasiswa yang datang tiap malam.

Untuk pertama kalinya pekerjaannya bukan hanya menyajikan makanan.

Ia hadir dalam hidup orang lain.


Suatu sore pemilik kafe berkata,

“Kamu melayani orang seperti sedang meminta maaf.”

Kalimat itu menghantamnya.

Ia sadar.

Selama ini ia bekerja di langit bukan karena ingin lebih tinggi.

Melainkan karena tidak ingin bertemu siapa pun yang mengingatkannya pada masa lalunya.


Ending

Beberapa tahun kemudian.

Ia bukan lagi waiter.

Ia mengelola beberapa cabang kafe.

Ia melatih waiter-waiter baru.

Suatu hari ia mendapat undangan makan malam di restoran tempat dulu ia bekerja.

Gedung itu sudah selesai direnovasi.

Ia kembali naik lift.

Pemandangannya sama.

Awan masih indah.

Tetapi kali ini ia tersenyum.

Karena ia tahu…

Tempat tertinggi yang pernah ia capai bukan lantai 98.

Melainkan keberanian untuk turun.

Lift kembali bergerak.

Kali ini menuju bawah.

Dan untuk pertama kalinya…

Ia menikmati perjalanan turun.