Aperture

Bagi Awan, hidup selalu terasa linear. Dunianya dibangun dari barisan kode biner 1 dan 0, rutinitas server yang membosankan, dan hiruk-pikuk ruang data yang dingin di gedung perkantoran Jalan Asia Afrika. Pukul enam pagi adalah titik di mana dia kembali menjadi sekrup dalam mesin besar perusahaan teknologi. Satu-satunya jeda yang benar-benar dia miliki adalah pukul lima pagi, saat dia memacu langkah di atas jogging track apartemennya. Di sana, di antara embun yang masih menempel dan lampu-lampu yang mulai padam, dia hanya seorang pelari.

Awan adalah subjek yang tenang dalam rutinitasnya. Sampai suatu pagi, empat tahun lalu, sebuah interupsi muncul dalam bentuk suara yang tajam. Klik.

Seorang wanita dengan jaket parka kebesaran berdiri di sudut belokan jalur lari, memegang kamera mirrorless. Awan terhenti, napasnya memburu—merasa privasinya terinvasi seperti malware. Wanita itu terlonjak kaget, wajahnya memerah. Dia membungkuk berkali-kali dengan gerakan yang sangat cepat.

“Ah, gomen nasai! Maaf!” serunya dengan aksen yang asing. “Saya… hikari… cahayanya… siluet kamu tadi… sangat perfect.”

Awan hanya mengangguk kaku dan berlalu tanpa kata. Namun, interupsi itu menjadi permanen. Besoknya, wanita itu ada lagi. Pada hari kelima, Awan menyerah. “Kenapa setiap hari di sini? Memangnya ada yang bagus dari tempat ini?”

Wanita itu, Hana, menunjukkan layar kameranya. Awan terpaku melihat bayangan kabel internet yang malang melintang di antara celah dahan pohon, digubah dalam komposisi hitam putih yang dramatis. Awan melihat dunianya sendiri—dunia koneksi yang kaku—lewat cara yang begitu puitis.

“Dunia ini… isogashii… bergerak terlalu cepat,” ucap Hana pelan. “Di sini, pukul lima pagi, semuanya melambat. Aku ingin menangkap ‘jeda’ itu. Koko ni dake no jikan.”

Hana menetap di Bandung selama enam bulan. Enam bulan yang cukup untuk mengubah Awan yang biner menjadi seseorang yang mulai memahami gradasi. Awan mulai membawa Hana ke sudut-sudut kota yang tersembunyi, sementara Hana mengajarinya bahwa cahaya itu analog—penuh warna, tidak pernah benar-benar hanya hitam atau putih.

“Fotografi adalah cara kita meminta dunia berhenti sejenak,” kata Hana suatu sore.

“Tapi dunia IT tidak bisa berhenti, Hana. Kalau berhenti, sistem down,” sahut Awan.

Hana tertawa. “Makanya, kamu butuh kamera ini. Biar hidupmu tidak down saat sistemmu berjalan terlalu kencang.”

Saat Hana kembali ke Jepang, dia meninggalkan sebuah amplop krem berisi foto siluet Awan dan sebuah permintaan: jangan biarkan dunia kembali menjadi biner. Kirimkan surat fisik. Sentuhlah ceritanya.

Empat tahun Awan menepati janji itu, sampai tiga bulan lalu, surat dari Hana berhenti datang.

Awan, sang Senior IT Support, tidak percaya pada keheningan. Dia membuka folder cloud lama tempat dia pernah membantu Hana mencadangkan fotonya. Dia mencari Unique Sensor ID kamera Hana dari metadata file RAW—sebuah “sidik jari” digital yang unik. Dia menemukan sebuah unggahan anonim di komunitas fotografi Jepang; foto awan dari jendela rumah sakit di Setagaya.

Awan mengunduh file itu, jarinya gemetar saat memeriksa kolom Artist Name pada metadata internalnya. Di sana, Hana telah menggantinya menjadi: “For Awan: The last gradient.”

Hana tahu hanya Awan yang bisa melacak jejak digital sekecil itu.

Tokyo di bulan November sangat dingin. Awan akhirnya sampai di bangsal penyakit dalam khusus setelah berbohong sebagai tunangan Hana. Di dalam, Hana duduk di tempat tidur. Tubuhnya terlihat kaku, tangannya bersandar di pangkuan dengan posisi yang tidak wajar.

“FOP,” Hana mendahului. Suaranya serak. “Fibrodysplasia Ossificans Progressiva. Ototku perlahan berubah menjadi tulang. Aku sudah tahu ini sejak di Bandung, Awan. Karena itu aku memotret dengan gila, sebelum tubuhku benar-benar mengunci.”

“Tiga bulan lalu, bahuku berhenti bergerak,” lanjut Hana dengan mata berkaca-kaca. “Aku tidak bisa lagi memegang pena. Foto awan itu… aku meminta bantuan perawat untuk menekan tombol shutter. Aku tahu kamu akan menemukannya.”

Awan duduk di sampingnya. Dia melihat oase dalam hidupnya kini perlahan menjadi patung yang bernapas. Kontras yang pahit: Hana yang dulu begitu cair kini membeku, sementara Awan yang dulu kaku kini hancur berantakan. Matahari sore mulai terbenam di balik gedung Shinjuku, memberikan cahaya jingga pada wajah Hana. Awan mengangkat kameranya.

“Jangan, Awan. Aku sudah tidak bisa berpose,” bisik Hana.

“Hana,” kata Awan tenang, “kamu yang mengajariku: fotografi adalah tentang menangkap momen yang ada, bukan momen yang kita inginkan.”

Klik.

Hana tersenyum samar, seolah sistemnya sedang melakukan final shutdown. Lampu indikator di samping tempat tidurnya berkedip merah tenang, seperti lampu error pada server yang tak lagi bisa diperbaiki.

“Mencintai adalah membiarkan rana terbuka lebar untuk menangkap cahaya,” Awan berkata pelan dalam bahasa Inggris.

Seminggu kemudian, Awan berdiri di bawah langit Tokyo yang kelabu. Tidak ada lagi suara mesin rumah sakit. Hanya ada hening yang merayap di antara deretan nisan batu yang dingin. Dia berlutut di depan makam yang masih baru, mengeluarkan sebuah amplop krem dari jaketnya. Dengan tangan bergetar, dia meletakkan selembar foto di atas nisan batu itu.

Foto Hana sore itu. Dicetak di atas kertas matte yang kasar dan bertekstur, menangkap senyum terakhir yang dipeluk cahaya jingga. Awan menyentuh permukaan foto itu, merasakan tekstur fisiknya, memenuhi janji analog terakhir mereka.

“Sekarang,” bisik Awan, suaranya pecah di tengah angin, “ceritanya benar-benar sudah bisa disentuh, Hana.”

Di depan nisan itu, Awan akhirnya paham bahwa beberapa sistem memang harus berhenti berfungsi secara permanen. Namun, dalam dunia yang kembali biner baginya, foto itu menjadi satu-satunya data yang takkan pernah bisa terhapus; sebuah gradasi cahaya yang akan tetap nyata, meski subjeknya telah memilih untuk membeku selamanya dalam keabadian.